Wednesday, July 13, 2016

Living My Teenage Dream (?)

Sejenak gue tertegun baca blogpost gue di tanggal 16 Juni 2009.

APAAA

APAAAA

Fix banget itu abis baca A Very Yuppy Wedding terus ngeces ngeliat kehidupan Andrea Siregar kok asik banget, kerja di bank besar, kemana-mana ada mobil enak (nggak nyetir sendiri), pacar ganteng si Adji sekantor pula.

Begini ya Young Pinka di tahun 2009, hidup itu tidak selalu seperti yang dimimpikan dan direncanakan, walaupun surprisingly kadang ada yang sejalan. And I'm very surprised loh actually pas baca, ooh, gue pernah kepengen itu ya.

Jadi begini, dari blogpost itu, ada beberapa yang jadi kenyataan dan ada yang enggak juga.

First of all, impian gue dari hari itu adalah 8 tahun lagi gue akan menjadi banker di usia 25. Untuk yg ini alhamdulillah ya, di usia ke-23 tahun 2015 lalu gue udah resmi kerja di sebuah bank. Dan kontraknya masih ada beberapa tahun, jadi insyaAllah di ultah ke-25 tahun depan ya masih banker :))

Tapi... Paragraf selanjutnya gue berharap masuk Fakultas Ekonomi. Tapi kan yang dimimpikan tidak seperti yang direncanakan, hehehe, saat itu gue emang dapet jurusan Akuntasi di sebuah PTN tapi seperti yang kita tahu, gue malah masuk Fakultas Hukum :))

Tapi tetep kerja di bank. Mematahkan segala anggapan anak kecil bahwa cuma anak Ekonomi yang bisa kerja di bank.

Paragraf berikutnya adalah ekspektasi masuk ke bank asing. Kalo yang ini sih jawaban diplomatis gue, mengabdi buat negeri dulu lah dengan bekerja di Bank BUMN, huehehehehehe.

Paragraf akhir talking about Birkin & Manolo. Udah kebeli? YA BELOMLAH. *emosi* *mimpi tinggi amat jadi fresh grad kerja di bank udah beli ginian pake gaji sendiri*

Apa ada hal lain yang kejadian juga dari buku yang jadi inspirasi gue?

Ada dong :)

Mobilitas ke nasabah ada kok mobil kantor which gue gak perlu nyetir sendiri ke nasabah (tapi kalo nyetir ke kantor dari rumah sih masih nyetir sendiri hiks -yaiyalah), and I found my own Adji, dgn culture keluarga Jawa yang persis Adji, unit kerja yang sama kayak Adji, dan sama kayak Adji voluntarily nyetirin mobil gue pulang kalo gue lembur dan mobil dia ditinggal di kantor :)

Sama kok kayak Andrea di buku tsb, awalnya sembunyi-sembunyi dari bos & galau soalnya sekantor tidak boleh menikah ahuahahuahuhua.

Another coincidence, randomly after 6 years (since the very first time gue baca tu buku), I got accepted in the same management trainee program with the writer itself! :)

Novelnya sendiri yang gue beli pas SMA udah ilang entah kemana, dan gue beli ulang for the sake of sweet memories behind the story aja.

Dan senyum-senyum sendiri tiap baca.

See, I told you. Life is full of surprises. Cannot wait for the next chapter, bakalan ada cerita ke Goldman Sachs kayak di novel itu apa ngga :P

*dilempar reader pake sendal*
*kabur*

Tuesday, January 5, 2016

Food Review: Itacho Sushi Grand Indonesia

2015 berlalu hanya dengan segelintir postingan. Salah satu resolusi gue di 2016 adalah dengan lebih sering mengupdate blog, kalo perlu tiap hari, soalnya kayaknya sejak kerja hari-hari gue lebih bermakna dan suka ada moral of the story-nya gitu.

(((MORAL OF THE STORY)))

Kalopun nggak bermakna, pasti tulisan gue tentang kecintaan atau something I'm very passionate about, salah satunya adalah makanan.

Masih di dunia per-sushi-an, Itacho Sushi berada di Grand Indonesia, sebuah mal yg sebenernya gue bosen banget tapi somehow seminggu sekali gue pasti ke situ. Kenapa bosen, ya karena jaman gue training MT itu tiap pulang training kan Learning Centre Group-nya di Tanah Abang, jadi ya pulangnya pasti main ke GI. Yaudah lengkap juga sih sebenernya jadi ya nonton, makan, belanja, yaudahlah pasti GI (lah...).

Itacho Sushi ini merupakan cabang dari banyak cabang Itacho Sushi di penjuru Asia, kayak di SG, HK, dan Jepang sendiri.

Walopun udah ada lama tapi gue belom cobain, maklum kan gue anaknya suka susah keluar dari comfort zone gitu, ngerasa udh enak Sushi Tei ya mager coba yang lain kecuali Sushi Masa ya (plis yang punya voucher makan di Sushi Masa sebesar Rp 1.000.000 kirimin gue dong...), tuhkan gue suka nggak fokus hiks (tar gue bahas di postingan lain deh).

Yaudah akhirnya diputuskan untuk nyoba Itacho Sushi karena liat postingan temen-temen di Path dan ada bahas soal Fatty Salmon. Siapa coba yg gak ngiler dengen Fatty Salmon? Dosa!!!

Jadi gimana?


Jadi gue mesen ocha dingin (gratis & refill, penting kan informasinya), Fatty Salmon (11k/ piece), Roasted Fatty Salmon (11k/ piece), Roasted Salmon w/ Cheese (12k/ piece), Salmon Roll (28k/ 2 pieces), Beef Stew Tobiko Roll (60k/ 7 pieces), sama da bomb-nya, Salmon & Skin Soya Sauce with Butter (4,5k/ piece... IYA 4,5k/ PIECE).

Di foto hanya ada Fatty Salmon, Roasted Fatty Salmon, Roasted Salmon w/ Cheese, sama Salmon & Skin Soya Sauce with Butter. Semua salmonnya enak, seger, yang pake Cheese juga enak karena basically gue anaknya suka banget keju. Juaranya emang Salmon & Skin Soya Sauce with Butter, karena basicnya salmon itu udah enak, plus ini diroast pake pepper dan butter itu meleleh banget di mulut. Nah, gue kurang tau strategi apa yang dipake, kenapa harganya didiskon parah sampe cuma 4,5k per piece, karena, satu orang, strictly, cuma boleh pesen satu piece.

Nyiksa.

Mungkin sengaja biar gue penasaran dan balik lagi? Hehehe.

Untuk Salmon Roll was okay, pake mayo. Untuk Beef Stew Tobiko Roll, biasa aja sih, karena gue nggak suka yang manis-manis (kecuali dessert, ya...).

Untuk ambiencenya juga enak, menurut A beda suasana aja, kayak lagi gak di Indo (mungkin dia lebay, nggak deng, hahaha, gue juga ngerasa gitu).

Bakal balik nggak? Ya, untuk Salmon & Skin Soya Sauce with Butter-nya yang sukses bikin penasaran karena cuma bisa makan sebijik!!!


Itacho Sushi
Grand Indonesia Shopping Town
Lantai 3A, Sky Bridge
Jl. M. H. Thamrin No. 1, Jakarta Pusat 10310
Phone: 021 29704981

Tuesday, December 29, 2015

Food Review: Sushi Masa

2015 mengajarkan gue bahwa mencatat berbagai macam momen di blog itu bagus, tapi... Ada bagusnya kalo yg dicatat adalah momen yang netral dan nggak bikin baper tapi tetep full of love. Kayak apa tuh? Kayak my endless love & passion for food.

Sedih juga jarang ngepost di 2015, tapi kayaknya bakalan lebih (pengen sih...) sering ngepost di tahun depan terutama soal makanan yg gue lagi suka bgt.

Setelah setahun lebih kembali ke kota kelahiran nan hectic, gue super nggak bisa move on dari kuliner Jogja. Beberapa bulan sekali (pernah juga sebulan sekali), gue pulang ke Jogja buat melepas rindu terhadap kuliner Jogja tsb, sebut saja Penyetan Mas Kobis, Bakso Gress, Kapsalon-nya Roti Papi, Mie Ayam Grabyas, Salmon Steak-nya R&B Grill, dan sebagainya.

Terus ada yg bisa berhasil bikin move on nggak di sini? Ada dong. Ada dua sih juaranya. Tapi satu dulu yg gue bahas ya, yaitu the legendary (kalo kata rating Zomato), Sushi Masa.

Emang apa sih yg spesial? Pertama kali gue tau karena suka baca blognya food blogger dan banyak bgt yang memuja si Sushi Masa ini, tapi gue cuma mikir apa sih yang spesial. At least dua/ tiga minggu sekali craving gue terhadap sushi terpuaskan kok oleh Sushi Tei atau Hiroya (thanks to A, udah ngenalin Hiroya) yang cuma selemparan batu dari rumah. Sampai akhirnya A juga ngomong tentang sushi yg konon terbaik se-Jakarta ini. Hmm...

Untuk menjawab penasaran kita ke sana akhirnya di suatu malam minggu, pastinya harus reservasi dulu kalo nggak kayaknya mesti nunggu lama banget buat dapet kursi. Pertama kali ke sana masih rada clueless mau pesen apa ya? Laper yaudah yang wajar-wajar aja deh pesennya.

Jangankan mau pesen apa, ini tempat tuh hidden gem. Nyarinya rada susah, bisa sih berbekal Waze, yang pertama kali lancar, yang kedua kali gue dari kantor rada muter-muter baru dapet. Ajaib emang.

Salmon Gratin

Prawn Aglio Olio

Salmon Maki

Salmon Aburi & Salmon Belly Sushi

Salted Caramel & Genmai Matcha Hokkaido Ice Cream, Mango Sorbet (with Real Mango!)

Kabuto Beef

Salmon Hana Spicy

Jadi gimana? Sampe bingung mau jelasinnya gimana perasaan gue terhadap sushi-sushi ini, hahaha, lebay. Intinya the best sushi in town (party in my mouth). Semua review di Zomato, blog, dll nggak ada yang bohong, kalo mereka bilang ini the best sushi in town, gue jamin this is indeed the best sushi in town!

Salmon Gratin was okay seimbang banget tomato puree sauce dan creamnya, tapi ya okay aja gitu, mungkin karena emang specialty nya sushi ya, begitu juga dengan Prawn Aglio Olio juga okay enak. Terus gimana dengan Salmon Maki, Salmon Aburi, dan Salmon Belly? Salmon Hana Spicy? Definitely the finest, freshest, best salmon, I've ever tasted (jadi makin pengen ke Tsukiji Fish Market, hiks...), ini dagingnya seger banget dan potongannya generous banget. Kabuto Beef? Enak banget sulit dijelaskan pake kata-kata, next time gue mau coba Kabuto yang Wagyu.

How was the dessert? I can tell you that those desserts were as good as the main course! Juaranya Genmai Matcha Hokkaido Ice Cream, es krim terenak yang pernah gue makan (jadi pengen lagi, huhu).

Gue udah dua kali ke sini, kedatangan kedua gue udah mesen yang favorit-favorit gue aja. Can't wait for the third visit and more!!!

Sushi Masa
Jl. Tuna Raya No. 5 Grey Building Lantai 3, Penjaringan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440

Sunday, November 8, 2015

2015

It's not the end of year... yet.

However, it's November already.
A year since the last time I wrote for this blog, a very emotional blogpost about leaving Jogjakarta, a place I called home for the past four years. Sedih? Banget. Gue sebenernya orang Jogja, I wrote about this in that previous post. Selama SMA di Tarnus, tiap weekend sering ke Jogja kan.

Didn't got the chance (or I was too lazy) to write a post about how I graduate on August 2015. Or a vacation to Bali with my high school babes after that graduation. I was very happy at that time, bikin nyokap bokap bangga pas wisudaan.

Right after graduation, I was too busy looking for job (like other fresh graduates, of course), and I was once applying for Master Degree too, in UNSW majoring Commercial & Corporate Law. I applied for several law firms and passed the interviews.

However, I didn't take any of those opportunities. I, strangely, entered a management trainee class, they call it as Officer Development Program by a State Owned Bank, sebenernya nggak aneh sih soalnya kan thesis gue tentang bank syariah, of course dilihat dari sisi legal ya. Di program itu, I made new friends with 22 amazing classmates. Three months in-class training, one month on-the-job training at their branch, and finally it's been amazing seven month, serving corporate clients for their transaction banking needs. I won't talk details about my work, gue gak mau blog gue (which I first write in 2007 when I was 15) jadi blog yang bosenin hahaha.



Then how does it feels like to be a corporate slave? Walopun males ngomongin kerjaan, tapi kayaknya penting deh cerita tentang keseharian gue sekarang.

Tiring of course. I work from 7.30 AM to 4.30 PM (theoretically...), in fact I stay at the office usually until 8 PM. We order food, makan lembur at 7 PM. I thought working at a bank will give us more chance to be at home at 5 PM (that's why at first I didn't want to work at a law firm). But that's not what happen in my office or especially in my department.

Gue bangun jam 5 pagi (atau lewat sih, nge snooze alarm hp sebanyak mungkin, LOL), terus solat subuh, terus mandi, biasanya sih nggak dandan ngeringin rambut doang. Karena ngejar berangkat sebelom kena 3 in 1 di Sudirman.

Sampe kantor jam 7 lewatan, sarapan dulu, bawa sereal dari rumah dipakein susu di kantor terus makan sereal, sambil ngecek email. Terus dandan, nyatok. Biasanya jam 9 gitu udah siap berangkat meeting ke kantor nasabah. Or just replying and checking emails or working on proposal, reports, until lunch time.

Oh iya, gue abis operasi usus buntu, laparoscopic appendicitis. Sebelumnya gue sempet hospitalized juga karena gastritis akut. Kecapekan kali ya, jadi sempet makan siang gue dari healthy catering gitu, but still I gain weight banyak banget hiks gatau kenapa.

Kalo meetingnya after lunch, biasanya pulang meeting macet, sampe kantor lagi magrib, solat terus bikin report, terus makan lembur, baru pulang, pas udahs selesai 3 in 1. Kayak gitu terus tiap hari, dan urusan di kantor makin challenging aja makin ke sini. Terus weekend, makan enak, nonton, terus weekdays lagi.

Now I understand why Peter Pan didn't want to grow up.

I miss my college days so frikkin bad.

Thursday, October 30, 2014

Yogyakarta

Postingan kali ini gonna be a long and emotional post. Keliatan kan dari judulnya? Bagi yang pernah atau sedang tinggal di Jogja (buat kuliah gitu), ayok siapin dulu tisunya.

Jadi ceritanya begini, lusa gue akan berangkat ke Jakarta, karena gue harus mulai training sebuah program Officer Development Program sebuah bank. Training-nya empat bulan, dan itu Senin sampai Sabtu, which means, gue gak bisa ngabur-ngabur balik Jogja hari Jumat malam dan pulang Minggu malam (sebuah rencana kalo gue jadi ambil kerjaan di law firm).

Sebenernya perpisahan bukan hal baru sih buat gue, dari kecil gue jarang menetap lama di sebuah kota gitu. Gue lahir di Jakarta, sampai TK, terus gue sekeluarga pindah ngikut bokap ke Kuala Kencana, Papua, (lowland), sampai kelas 3 SD terus pindah ke Tembagapura (highland), pasti ada rasa sedih ya dulu pisah sama temen-temen sekolah. Kalo pas ke Papua sih gue sedih banget karena harus pisah sama Opung gue di Jakarta, tapi agak keobatin karena dua tahun sekali, masing-masing kurang lebih sebulan kita cuti ke Jakarta. Nah, berhubung bokap gue aslinya orang Jogja, di cuti ke Jakarta itu kita selalu mampir Jogja juga untuk nengok Eyang gue, jadiii... Di antara temen-temen perantau yang kuliah di Jogja, sebenernya Jogja jauh lebih familiar buat gue karena dua kali setahun gue selalu mampir Jogja dari kecil, dan pas kuliah ini keluarga gue ada rumah yang gue dan adek gue tinggalin kan, soalnya adek gue keterima FK UGM tahun ini, jadi kuliah sini juga. Kembali ke topik soal pindah-pindah, nah, gue di Tembagapura sampai kelas 3 SMP, ini sedih juga banget abis prom tuh sedihlah sama temen-temen, soalnya gue bakal SMA di Magelang, alias SMA Taruna Nusantara, dan nambah sedihlah gak boleh bawa hp gitu-gitu makin-makin deh, jadi perpisahan yang menyedihkan juga terjadi pas gue lulus SMP, harus ninggalin Tembagapura kota terenak di dunia. Kota mana lagi sih di Indonesia yang cuaca dan suhunya bak Eropa di bulan April?

Keliatan yak gue orangnya baperan, hahaha. Tiga tahun SMA, gue akhirnya lulus bersama temen seangkatan gue, dan kita ngadain PA (Prasetya Alumni). Ternyata semakin dewasa, perpisahan menjadi semakin emosional, sodara-sodara!!! Perasaan sebelumnya gue sedih banget pisah sama Tembagapura, jauh dari keluarga & sahabat, tiba-tiba gue jadi sayang banget sama SMA gue! Di akhir acara PA, ada acara namanya Passing Out, jadi kita bikin barisan panjang sampe ke boulevard komplek SMA TN, dan salaman sama pamong (guru), adek-adek kelas, dan... ratusan teman seangkatan! Demi apapun, gue gak pernah nangis separah itu dalam hidup, rasanya sediiih banget. Tiga tahun hidup seatap kan bisa dibilang, ngejalanin hal gak enak bareng-bareng (PDK tiga bulan gak boleh komunikasi sama keluarga, RPS jalan kaki puluhan kilo, hulu balang, UAN, dll), adaptasi bareng, sekarang harus pisah, melanjutkan studi masing-masing, ada yg kuliah ada yang masuk akademi dan lain-lain. Cowok-cowok aja pada nangis, duh gimana coba nyalamin dan melukin temen-temen seangkatan.

Jujur aja, pas SMA entah sengaja apa engga, lo gak mungkin se kamar sama temen se-circle lo, which is good, karena lo harus akrab sama semua, dan ini juga sedih banget pisah sama temen sekamar. Bisa dibilang temen-temen sekamar gue beda-beda karakter semua, cuma namanya sekamar kita jadi kompak. Pas kelas 3, gue pernah izin keluar untuk kontrol behel, dan gue beli lauk-laukan di SS (Spesial Sambal), gue udah pesen biar anak-anak kamar siapin nasi setermos dari ruang pamong, pas balik kita lesehan di kamar makan rame-rame sambil ngegosip, rasanya sedep banget duh gue ingetnya aja sedih banget.

Duh gue OOT-nya kejauhan, intinya, ya tiap pisah-pisah gitu gue sedih ketambahan gue baperan, ketambahan gue hidupnya pindah-pindah jadi ya lengkap. Nah, setelah lulus SMA, gue kan pindah ke Jogja, akhirnya tinggal di Jogja beneran, dan senengnya ada temen-temen akrab gue pas SMA di UGM juga, ada Vierna, Meli, Caca, sama Edel.

Selama dari kecil gue ke Jogja, ya gue gak pernah segitunya merhatiin sih bahkan gue gak hafal jalan. Eh btw, tapiii, selama SMA gue sering ke Jogja! Karena dari Magelang ya terdekat ke Jogja, jadi kalo pesiar ya ke Jogja. Dulu jaman gue di Magelang belom ada mal gede, belom ada bioskop yang appropriate, belom ada tempat karaoke, jadi ya kalo mau main ke Jogja, itupun yah kan sewa mobil pake supir, jadi ya enggak hafal jalan.

Terus pas kuliah ya, mau gak mau gue harus hafal jalan, pernah ya pas ada acara bukber FH 2010 sebelom mulai ospek, terus ciwi-ciwi ala-ala mau main ke Alun-Alun Selatan, gue sama Vierna nyasar sampe Ring Road Selatan, dengan kondisi gue baru banget bisa nyetir, terus bensin tipis, belom ada Waze, pokoknya super sedih, hahaha. Alhamdulillah nyampe juga.

Lama-lama ya mulai enak lah ya, apa-apa murah, udah hafal jalan, udah dapet temen-temen main. Awal-awal kuliah, lagi demen makan burjo banget, favorit gue sama anak-anak tuh Burjo Sami Asih, paling suka makan nastel (nasi telor), es teh manis, sama pisang molen. Kalo malem nongkrong di Roti Bakar Bang Nino.

Pertama kali jalan normal sama Dandi bertiga Audy juga ke Roti Bakar Bang Nino. Jalan kedua kali ke Extra Hot buat buka puasa, dan bahkan sekarang Extra Hot itu udah gak ada ganti jadi toko baju, sedih nggak sih? Makin lama ntar tempat-tempat lama bersejarah gue ganti semua. Jalan ketiga, buka puasa lagi (seneng gak sih lo di-pdkt-in jadi rajin puasa Senin-Kamis? Hahaha), ke Bebek Goreng Slamet Gejayan.

Pas maba, gue doyan banget sama Nasi Goreng Sapi Padmanaba! Gue bisa makan itu tiap hari! Kalo lagi gak bisa, bahkan minta Dandi bungkusin, freak abis! Sampe akhirnya gue nyampe di titik enek dan gak pernah makan itu lagi sampe sekarang, hahaha. 

Apalagi ya tempat-tempat yang bakal gue kangenin, oh iya R&B Grill lah ya, tempat steak terenak, dan harganya nggak gila-gila banget.

Bakal kangen juga sama daerah Prawirotaman, tempat makan favorit gue dan Dandi, dan pemilihan restonya musiman. Awal-awal demennya makan Zango, terus suka banget carbonara-nya K-Meals, terus jadi suka banget ke Aglioo, terus suka banget pizza quattro formaggi-nya Mediterranea by Chef Kamil. Gue suka abisnya suasanya agak kayak-kayak Bali gitu gak sih, kayak di Seminyak, soalnya yang makan bule-bule juga kan.

Bakal kangen juga sama Warnet Luxury, enak dan pewe buat nonton film sama Dandi. Bakal kangen juga sama Empire XXI, ya di semua tempat sama aja yah namanya XXI, tapi gue ngerasa paling homey di Empire gak tau kenapa, nonton di tempat lain rasanya beda. Dari awal pacaran, seminggu sekali hampir pasti nonton, kadang kalo lagi gila seminggu dua kali. Selalu beli popcorn manis medium. Film pertama yang kita tonton di situ adalah The Tourist-nya Depp & Jolie.

Gue juga suka banget sate klathak, tepatnya Sate Klathak Pak Pong. Sate klathak ini tuh daging kambing ditusukkin ke jeruji sepeda terus dibakar dengan bumbu minimalis (kayaknya cuma garem sama bawang putih) terus makannya pake kuah gule. Enak banget.

Kalo salon kesukaan gue itu Flaurent, harga super mahasiswa, Rp 25.000 udah creambath sama cuci blow. Pijitnya plus punggung, tangan, kaki, kurang enak apa?

Kalo gudeg, orang pada suka gudeg kering, kalo gue kurang suka. Gue suka bangetnya gudeg basah, favorit gue gudeg Djuminten sama gudeg di Kentungan.

Akhir-akhir ini pas pulang dari Belanda kemaren itu, gue juga lagi suka kapsalon, dan tempat pewe namanya And Or Bookstore, atau Roti Papi jualan kapsalon ini. 

Belom lagi kampus gue, walopun suka ngeselin karena susah cari parkir, tapi gue bakalan kangen masa-masa ngampus, makan nasi goreng kambing di kantin pake es teh tarik, jajan somay goreng sama Vierna, ke kampus sore sampe malem latihan mooting, ke kampus malem buat PLKH, dan mantengin papan exam results. Kampus gue juga merupakan spot terbaik buat parkir kalo mau Sunmor (Sunday Morning UGM, bazar makanan, yang sebenernya gak cuma makanan sih, mau beli cireng keju sampe hamster juga ada) atau jajanan buka puasa (es krim gorengnya enak).

GSP (Graha Sabha Pramana), tempat awal gue upacara pas pembukaan ospek pas maba, dan tempat gue diwisuda juga menyenangkan buat lari sore.

Terlalu banyak cerita di Jogja, yang gue bisa nangis terus nih kalo gue korek-korek memori buat ditulis. Jogja udah membantu gue move on dari kehidupan sebelumnya, Jogja memberikan banyak cerita, dan memori.

Gue jadi kepikiran nih, nekat aja apa flight Sabtu malem ke Jogja dan balik Minggu malem ntar? Hahaha. Cuma yaitu, tetep beda rasanya Jogja semasa gue jadi mahasiswa, dan ketika gue pulang pas udah kerja.

Semoga Yogyakarta tetap istimewa, dengan keistimewaannya, keramahannya, dan keragaman makanan dengan harga terjangkaunya.

Sunday, October 26, 2014

46 Bulan

Time flies when you're having fun.

Gila banget hahaha, gue lagi baca-baca archive blog ini ke belakang-belakang, bahkan masih ada gitu post happy first lunaversary, terus 8 bulanan, and so on. Nggak kerasa banget. Gue pacaran sama D dari maba (mahasiswa baru), semester 1, sampe sekarang, alhamdulillah.

Lancar? Oh tidak, hihihi.

Banyak banget perbedaan aneh mulai dari selera kayak soal KFC dan McD, sampai karakter. Cuma somehow, itu kali ya yang bikin awet, karena kayak saling ngisi aja.

Sekarang sih hampir sama sekali nggak pernah berantem, semua bisa dikomunikasikan dengan baik, gue bete pun dia kayak ngerti banget jadi gue nggak lama-lama deh betenya, ya faktor usia juga kali ya, dulu masih 18 sekarang udah 22.

Lucunya, di awal dulu kita sama-sama tidak berpikir bahwa ini akan menjadi hubungan panjang yang sampe tahunan seperti ini, jadi kayaknya ini yang bikin nggak ngoyo gitu gak sih, jalanin aja. Gue sih dulu kira paling tiga bulan, hahaha.

Masih sama dan gak pernah berubah, masih suka makan nyobain makanan baru sana sini, dan masih doyan nonton bioskop dan makan popcorn manis. Kadang D pengen asin, tapi ujung-ujungnya paling ngalah. Tapi kadang gue merasa semakin kenal aja, D itu jarang banget muji makanan, semua biasa aja bagi dia kecuali yang emang dia bener-bener doyan ya. Makanya gue seneng banget waktu dia bilang potato wedges buatan gue adalah kentang terenak yang pernah dia makan. *terharu*

Seperti hubungan lain yang semakin lama, kalo di awal tiap bulan masih rajin ala-ala bikin apa, beliin apa, makin ke sini nggak, wahahaha, orang mensiversary nya udah puluhan kali, zz. Masih rajin dinner nggak? Masih sih, cuma nggak kayak dulu yang selalu spesial nyari tempat fine dining baru, soalnya emang gak ada yang baru. Malahan kadang gak dinner juga kok, palingan makan yang kita suka aja, walopun itu Penyetan Mas Kobis atau Ayam Penyet Suroboyo.

Jadi kesimpulannya apa sih makin ke sini? Makin santai sih menurut gue. Makin ngerti. Jadi kadang gak perlu ngomong panjang lebar gitu loh. Entah berapa orang udah nanya ke gue, 

"Lo sama D nggak pernah berantem ya, Pink?"

Ya, selain menurut gue brantem gak perlu dishare di social media, hahaha, ya gak apa-apa sih kadang kita suka kode ya listening lagu nyindir di Path, cuma sekarang lagi bete pun gue males sok-sok gitu, mending nonton tv series biar happy lagi. Cuma emang pertanyaan di atas hampir bisa gue jawab iya sih, emang nggak pernah berantem, huhuhu, ini aneh apa patut disyukuri sih? Kayak mager aja brantem-brantem zz, dan gak ada pencetus juga sih, saking udah lama gue dan dia jadi sama-sama menghindari hal-hal yang bikin bete pasangan. Dan itu gak terpaksa gitu lho, udah jadi kebiasaan aja, dan ya dikit banget sih hal-hal yang bisa bikin dia bete, apalagi dia gak pernah jealous, zz.

Terus tanggal 25 kali ini kita makan di tempat favorit kita, pokoknya paling kesukaan, pas mau KKN sebulan di Pekanbaru aja kita makan di sini dulu supaya gak kangen, zz. Hahaha, yaitu makan di RnB Grill. Pokoknya gue suka banget, dan D juga suka banget, menurut gue tempat makan steak terbaik di Jogja itu ya di RnB Grill. Kualitas daging, dan segala macemnya dari segi rasa paling bagus.

Menu gue udah gak bisa diganggu gugat, Norwegian Salmon, side dish nya, sauteed broccoli, mashed potato, sauce nya cream cheese. Menu D juga sih, cuma dia kadang-kadang sayurnya suka gonta-ganti, kentangnya juga, kadang french fries, kadang mashed potato kayak gue, kalo tadi dia lagi pengen crisscut fries, berujung bete soalnya porsinya lebih kecil, hahaha. Btw, kenapa sih salmon, kenapa gak rib eye atau tenderloin? Hahaha, maunya gitu!!! Gue doyan banget daging sapi, bagi gue daging terenak juicy banget, dibanding daging ayam yang kering, tapi... Kan demi menuju hidup yang lebih baik, hahaha.

Gitu aja sih, harapannya semoga dinner 4th anniversary kita lancar dan dirayakan pake gaji sendiri, asik, hahaha, amin ya rabbalamin.

Kasian deh yang kentangnya lebih dikit, wakakaka.

Saturday, October 25, 2014

Demi Menuju Hidup yang Lebih Baik Part 2

Baca part 1 di sini.

Setahun yang lalu gue udah menulis beberapa effort untuk menuju hidup yang lebih baik. Makin ke sini, makin seneng karena tren hidup sehat lagi happening banget. Beberapa orang bakal bilang rajin bikin jus, minum infused water, masak pakai bahan-bahan organik, makan di restoran vegetarian atau restoran sehat, diet, hashtag #healthyeating #cleaneating, Zumba, sampe ikutan katering sehat atau katering di Instagram itu cuma karena latah doang, ikut-ikutan, sok keren.

Pendapat gue sih beda, apa salahnya pada latah kalo buat hidup yang lebih baik? Iya nggak sih? Malahan bagus, soalnya kita mungkin aja di rumah masing-masing banyak yang udah menerapkan gaya hidup sehat dari dulu, tapi begitu kita keluar rumah? Makanan berminyak, dan lain-lain.

Usaha-usaha yang gue terapin tahun lalu masih sih gue lakuin sampe sekarang, tapi sebenernya gue dalam dilema juga. Gimana nggak, berat badan gue sih masih ideal kalo diitung body mass index nya, cuma kalo gue sih merasa kalo diliat atau ngaca gitu ya kurang langsing lah, hahaha. Cuma masalahnya kalo gue tes darah rutin gitu, kolesterol dll gue alhamdulillah tuh rendah, jadi dokter bilang, "Kamu jangan diet-diet ya!" padahal gue nggak diet banget-banget sih. Belom lagi tensi gue tuh rendah banget jadi serba salah pengennya terlihat langsing cuma mending gak usah deh daripada kesehatan kenapa-kenapa.

Jadi sekarang gimana? Maintain aja gaya hidup sehat, gak perlu diet kalo emang body mass index nya masih ideal bahkan (dalam kasus gue) masih agak jauh ke angka batasan. Makanan sehat, kalo bisa pake organik ya organik, tetap jauhi MSG, makan secukupnya jangan berlebihan (ini gue juga susah sih) dan olah raga, ini sih yang gue masih agak susah rutin, lagi doyan berenang (lagi).

Untuk daya tahan tubuh gue sekarang lagi rajin ikutan bikin honey lemon shot nya Andra Alodita. Gue lagi ngecek Path gue, gue mulai rutin minum ini tanggal 28 September 2014, jadi kira-kira udah mau sebulan. Wow gue pun cukup kaget gue bisa sekonsisten ini! Gue kira gue musiman aja minum ini, ntar lama-lama males, alhamdulillah ternyata nggak.


Awalnya temen gue Angie bilang, dia dan Mamanya mulai konsumsi ini dan hasil tes darah (kolesterol, asam urat, dll) jadi membaik dan stabil, terus gue jadi tertarik.

Sebelum mulai konsumsi honey lemon shot ini, gue googling blog orang-orang dulu (selain blog Andra sendiri), dan ngecek hashtag #honeylemonshot di Instagram. Sampai hari ini sudah ada 3,918 posts di hashtag itu. Wow. Just wow.

Gue seperti baca-baca dulu, kenapa orang-orang itu pada mulai ikutan konsumsi ini, apa aja sih manfaatnya. Sebenernya bisa dilogika ya, ini ramuan ajaib dan komplit, dari kecil kita udah sering disuruh minum madu, karena khasiatnya untuk daya tahan tubuh, dsb. Lemon sendiri kandungan vitamin C nya tinggi.

Terus apa yang udah gue rasain sejauh ini? Ya alhamdulillah badan kerasa tambah fit aja sih, dan ada rasa kayak nyaman juga bahwa setiap hari gue mengkonsumsi sesuatu yang sehat.

Untuk resep honey lemon shot ini bisa diliat di sini.

Cuma gue tulis ulang secara singkat gak apa-apa deh hohoho. Jadi gue pakai lemon import, harganya emang agak mahal cuma ya nggak apa-apa sih demi kesehatan kalo kata Bokap Nyokap gue, soalnya mereka suka bikin infused water pake lemon, sekarang sih bisa bilang nggak apa-apa ya, ntar kalo dah mulai beli lemon pake gaji sendiri baru kerasa kali, wkwkwk. Jadi setengah lemon itu gue peras, terus taruh di shot glass bersama dengan satu sendok makan madu, terus aduk rata baru minum. Oh iya, aduknya kalo bisa jangan pake sendok besi ya... Habis itu minum segelas air hangat, setengah jam kemudian baru sarapan.

Selamat mencoba ♥

Monday, October 20, 2014

Hannover - Amsterdam Trip (Part 4)

Hallo semoga gak bosen bacanya kok serial cantik cerita trip kali ini kagak abis-abis sih. Ya abisnya rasanya semua pengen diceritain sih hihihi. Dari pada kelamaan gue mulai aja dari keesokan harinya ketika kita ke Den Haag untuk mengunjungi International Criminal Court, seru kan? ICC ini adalah sebuah court yang memiliki yurisdiksi untuk mengadili orang-orang yang melakukan kejahatan internasional seperti genosida, crimes against humanity, dan war crimes. Salah satu hal yang sangat gue syukuri dari perjalanan ini adalah kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat kayak gini, kayak ke ITLOS juga. Sering kan denger di film-film action gitu, kadang ceritanya ada war criminal yang mau diadili di ICC gitu, eh ini gue dapet kesempatan untuk ngunjungin langsung, dengerin presentasi tentang ICC, sampe ngeliat langsung ruang sidangnya, seru kan? InsyaAllah ke depannya masih pengen jalan-jalan lagi, cuma kan langka yah misalnya jalan-jalan terus masukkin ICC atau ITLOS ke itinerary, wkwkwk.


Sayang cuma bisa foto depannya, ya menurut ngana aja, dengan penjagaan yang berlapis, maklum ya bo', kan yang diadili di sini kejahatannya super serius jadi penjagaannya gak main-main, sehingga hp mesti dikumpulin bahkan kalo gak salah! Kelar tur di ICC, sebenernya gue sedih sih gak sempat main *duh sok akrab* ke International Court of Justice, secara kan gue pernah tuh latihan berbulan-bulan bagaimana cara beracara yang baik sebagai legal counsel yang bakal ngasih argumen ke para judges di ICJ iniiih hiks *pamer* *bodo* padahal letaknya sama-sama di Den Haag.

Teman-teman gue pun memutuskan untuk segera balik ke Amsterdam, sedangkan gue janjian sama temen SMP gue yang emang kuliah di Den Haag buat ketemuan dan diajak jalan-jalan dulu, ya sayang dong kalo langsung balik ke Amsterdam soalnya Den Haag juga bagus banget dan gak sehiruk pikuk Amsterdam.




Setelah ngupi-ngupi chantique di coffee shop di foto di atas *walopun gue gak bisa minum kopi palingan cuma bisa decaf jadi mesen cinnamon hot milk*, temen gue pun mutusin buat ikut nemenin gue balik ke Amsterdam buat ngajakin gue dan rombongan mengulik Amsterdam lebih dalem! Asik! Oh iya, fyi, harga tiket Amsterdam-Den Haag PP itu 22,50 euro alias Rp 347.537, maklum ya bo' kan keluar kota.

***

Keesokan harinya rombongan kebagi-bagi dengan urusan masing-masing. Karena gabut, gue dan Rana memutuskan untuk ke Volendam! Volendam adalah kampung nelayan yang letaknya di utara Amsterdam. Di situ deh biasanya para turis foto pake pakaian tradisional ala Belanda. Berbekal cuma nanya-nanya aja sama petugas di Amsterdam Centraal, gue sama Rana berhasil naik bus sampe ke Volendam! Jadi jalan aja deh ke bagian belakang Amsterdam Centraal, ternyata di sana ada pemberhentian bus, cari tujuan Edam, kalo gak salah tiket busnya sekitar 10 euro. Perjalanannya sekitar 40 menit, dan pemandangannya bagus juga di jalan. Setelah sampe, ternyata Volendam-nya sendiri lebih bagus dan unik daripada pemandangan di jalan tadi.




Seneng ya, cerah banget udaranya, bagus buat difoto dan gue bisa pede gak pake coat dan bahkan gak pake jaket! Tentunya setelah berburu suvenir, gue dan Rana memutuskan ikutan foto pake baju ala Belanda biasa mental turisnya keluar hihihi. Biayanya 15 euro kalo gak salah per orang.

Murah sekali!!
Kurang homey apa cobak lo jalan-jalan ke Belanda?!! GRATIS KALENDER, MURAH SEKALI!! Bayangin saking banyaknya orang Indo yang foto-foto di sana sampe bikin iklan di depan tokonya kayak gini. Terus kan berjejer tuh sama semua toko suvenir dan studio foto, jadi bagaimana cara memilih studio foto di Volendam? Apakah pilih yang memberi kalender gratis? Gue sama Rana memutuskan untuk foto di sebuah studio yang besar, cukup ramai, dan pas liat-liat hasil yang ditempel keliatan paling oke, dan tentu saja yang paling banyak muka artis Indo sampe keluarga Presiden! Wkwkwk, at least kita tau kan itu oke dan terpercaya, sampe orang-orang tersohor di Indo memakai jasa studio ini. Tapi jangan tanya namanya soalnya gue lupa. Pas lagi antri pun ngobrol sama ibu-ibu orang Indo, pas lagi antri pun banyak celotehan keluarga-keluarga Indo, zz...


Foto jadi dalam waktu sekitar sejam, sambil nunggu gue sama Rana kongkow dulu di Cafe De Boer, sambil menikmati pemandangan pinggir laut, eh lagi-lagi mejanya sebelahan sama ibu-ibu yang tadi sempet ngobrol di studio.


Dan inilah hasilnya...


Sempet agak mikir sih kenapa gue gak sambil megang bunga-bungaan yak biar anggun gitu, tapi yaudahlah, toh keju adalah makan kesukaan gue, wkwkwk.

***

Besoknya kita memutuskan untuk ke Keukenhof, alhamdulillah lagi-lagi beruntung karena Keukenhof tidak buka sepanjang tahun, alias hanya di periode tertentu saja. Lagi-lagi kata Prof. Opperman benar, April adalah bulan terbaik untuk mengunjungi Eropa :D

Keukenhof merupakan taman bunga terbesar di dunia. Kebanyakan bunganya ya jelas tulip, nggak afdol dong ke Belanda tanpa ngeliat tulip? Untuk mencapai Keunkenhof, gue, Rana, dan Eci ke Amsterdam Centraal dulu terus beli tiket untuk ke Schipol, harganya 8,50 euro.


Di Schipol ada kayak counter gitu di mana kita bisa beli yang namanya Combi Ticket, jadi ini tiket terusan gitu tiket PP bus dari Schipol ke sana plus tiket masuk ke Keukenhof-nya sendiri, harganya 23 euro alias, udah ah males ngitung malah stres wkwkwk, yang penting kan ringkes ya dan pengalamannya yang priceless :D



Untung ada tongsis!
Kalo yang ini sih tolong dong sis!



"Love me tender, love me sweet, never let me go..."

Cuma ya dasarnya gue orangnya kurang artistik ya poto-poto juga cuma pake iPhone, gimana nyesel gak gak bawa DSLR? Nggak dong! Wkwk, seperti dugaan gue bawa tas berat aja gue mager gimana ngalungin kamera ke mana-mana zz, untung gak bawa. Jadi ya gak lama gitu gue bosen aja bunga-bunga terus, wkwkwk, kalo nyokap gue kan suka taneman ya jadi kayaknya doi demen deh di sini, gue sih biasa aja cuma pengalaman aja seneng pas ke sana pas Keukenhof buka dan emang cantik banget.

Puas foto-foto kita balik ke Amsterdam karena mau ke atraksi terakhir dalam kunjungan kita ke Belanda kali ini, yaitu Amsterdam Ice Bar.

***
Tiket Amsterdam Ice Bar kita beli di toko souvenir, kalo gak salah harganya 16 euro. Jadi Ice Bar XtraCold ini merupakan bar isinya musik jedag jedug tapi dingin isinya es gitu kayak meja barnya, dindingnya, sampe hiasan beruangnya dari pahatan es. Karena dingin kita harus pake coat yang disediain, sarung tangan, dan sepatu kalo gak salah. Harus banget pake sarung tangan? Yaiyalah, kalo gak, lo gak akan bisa minum karena gelasnya terbuat dari es! Karena licin, gelas kedua gue jatoh & pecah wkwkwk.


***

Akhirnya selesai juga cerita Hannover - Amsterdam Trip ini! Lega juga akhirnya walopun panjang dan kebagi 4 part, hehehe. Capek juga nulisnya karena harus nginget-nginget, googling lagi info yang agak lupa, dan... Milih-milih foto! Selesai juga utang pertama setelah hiatus lama banget. Sisa utang cerita wisuda dan kebiasaan baru gue minum honey lemon shot!

See you on the next trip! (Kapan juga belom tau sih, secara gue baru dapet cuti setelah setahun dan itu pun setahun cuma 12 hari, dan konon katanya mustahil diambil serentengan 12 hari hahaha, yaudahlah bismillah aja, kalo kata D, "Nanti insyaAllah ada jalannya." kayak mau ngapain aja yak padahal pengen liburan doang wkwkwk).

Sunday, October 19, 2014

Hannover - Amsterdam Trip (Part 3)

Kayaknya bagian ini bakal gue bagi dua lagi deh postingan yang seharusnya bagian terakhir ini, karena di Amsterdam kan full jalan-jalan ya hihi. Okay, jadi hari terakhir di Hannover kita pun akhirnya cabut naik kereta ke Amsterdam. Begitu sampe Amsterdam hal yg pertama gue rasain, kok rasanya udah lebih gerah ya? Hehehe, keasikan dingin di Hannover nih.

Begitu masuk perbatasan, sinyal iPhone mulai ilang, karena simcard yg kita beli kan hanya berlaku di Jerman. Begitu sampe Amsterdam Centraal, happy deh hehehe. Kita sampe, geret-geret koper, cari kereta yg rutenya ke arah hostel kita, ternyata Meli juga nginep di hostel yg sama pas kita doi di Belanda. Jadi, sebenernya permasalahannya sama sih ya, hostel itu mesti super kecil sama aja kayak di Jepang, cocok emang buat backpacking. Cuma ranselan sih enak banget, masalahnya kan emang kita bawa koper segede gaban yah karena pergi 3 minggu, jadi agak merana jg di hostel kalo bawaannya banyak :")



Setelah naro barang di hostel, udah agak siangan ya, kita ke toko simcard di seberang hostel beli simcard, terus cari makan. Bagaimana cara mencari makanan halal di Belanda? Masih agak kayak di Jerman ya, masih banyak jualan kayak kebab gitu, dan kalo gue sih mikirnya insyaAllah kalo kedai-kedai yang jualan orang-orang keturunan Turki gitu halal ya dan alhamdulillahnya banyak banget kedai ginian. Ngomong-ngomong kebab, masih emang seputar kebab jualannya tetapi.......... Bentukannya udah agak dimodifikasi...... Menjadi suatu makanan yg bikin gue super gak bisa move on..... Bernama kapsalon. Jadi, kapsalon ini isinya paling bawah ada fries, lapisan keduanya adalah ayam yg udah dibumbuin kebab/ shwarma, terus paling atas ada salad ditutupin keju terus dibaked, kejunya meleleh. D000H INI MAKANAN ENAK BANGET :""") dan gue cukup lega pas tau di Jogja ada bule Belanda bikin resto ada menu Belandanya dan ada kapsalon tercinta, dan letaknya deket kampus UGM :""") so happy.

Kapsalon :"")

Masih banyak makanan lain yg gue coba, kayak gorengannya gitu kroket gitu-gitu, dan namanya sama, secara ya 3,5 abad dijajah, ya jelas banyak kesamaan dan budaya yg Belanda bawa dan menjadi sesuatu yang biasa juga di sana. Jangan salah, restoran Indonesia juga bertebaran banget di Amsterdam, cuma ya mager aja makannya ngapain juga makan nasi goreng 11 euro? Mending makan kapsalon 6 euro dong, wkwkwk, nasi goreng tar pas balik Indo kan juga bisa :P

Selain itu untuk transportasi selama di Belanda, kita beli tiket kereta modelnya terusan gitu, pake sepuasnya (tapi cuma di Amsterdam ya gak bisa dipake ke luar kota), pemakaiannya pake batasan jam dan beda harganya, misalnya di hari pertama gue beli yg untuk 72 hours/ 3 days, itu seharga 16,50 euro atau Rp 254.860 (per April 2014 ya), terus karena gue memutuskan stay di Amsterdam karena pengen ke Keukenhof, akhirnya setelah yg 3 hari-an ini abis, gue nambah lagi beli ya 48 hours/ 2 days seharga 12,00 euro atau Rp 185.353, ya untung sih karena kan bisa dipake ke mana aja, dan kalo beli lepasan per rute nanti jatohnya lebih mahal.

Setelah makan, kita jalan-jalan aja karena udah mulai gelap. Paling cari-cari info tentang apa aja yg bisa kita datengin di Amsterdam, yg mana emang banyak banget! Ada Madame Tussauds, Amsterdam Ice Bar, Van Gogh Museum (antriannya kayak uler, gak jadi deh hiks), Anne Frank House (duh setelah nonton TFIOS jd nyesel kok gak ke sana ya, hehehe), dll, biasanya toko-toko suvernir jualan booklet isi voucher masuk ke atraksi-atraksi tersebut, kayak ada potongan harga juga gitu.



Besoknya, kita jalan-jalan keliling Amsterdam, kayaknya misah deh cewek cowok seinget gue, hehehe, seperti biasa kita cari sarapan deket hostel, terus kita kayaknya mau ke Van Gogh dulu, tapi penuh :(






Seperti biasa, harus mampir Hard Rock, karena Mama tiap ke mana-mana selalu beliin Papa, Adek, dan pas udh pacaran sama D juga kaos Hard Rock, dan Mama koleksi sloki Hard Rock, jd abis belanja titipan kita jalan-jalan lagi dan foto-foto selayaknya turis yah :P


Sorenya, gue Nadia sama Rana keee.. Madame Tussauds! Wkwkwk, duluuu banget gue udh pernah ke Madame Tussauds HK, tapi konon katanya Madame Tussauds Amsterdam lebih lengkap, dan updated dong ya misalnya pas gue di HK dulu Robert Pattinson mah belom terkenal wkwkwk. Biaya masuk ke Madame Tussauds Amsterdam itu harganya 22 euro atau Rp 339.814, kok gue jadi bingung pas ngitung ke rupiah wkwk, pas di sana mah gausah sering-sering ngituh deh ntar stres, gue aja baru ngitung sekarang ini dan agak shock juga kok dgn pengeluaran-pengeluaran spt untuk tiket kereta dan masuk-masuk ke tempat beginian, wkwk. Untuk info tiket dan reservasi online supaya lebih murah (dan begonya gue ga nyari-nyari ginian dulu sebelom berangkat, zz) bisa diliat di sini.



Manja duluu sama Mr. Smith!
Ngeteh sore sama Mr. Clooney. Amal Alamuddin who? Wkwk :P
Capek juga, akhirnya hari itu kita makan Uruguayan steak, terus pulang dan istirahat, karena kalo gue gak kebalik ya, besok tuh kita mau ke Den Haag.

Saturday, October 18, 2014

Hannover - Amsterdam Trip (Part 2)

Kalo di post sebelumnya agak lebih nyampur-nyampur ya, mulai dari kedatengan gue di Hannover (via Frankfurt terus Dusseldorf), suasana Guest House, makanan, sampe perbelanjaan di pusat kota, di Part 2 ini gue bakal cerita tentang kegiatan selama di sana.

1. Kuliah di Kelas (Study)
Udah sempat gue jelasin singkat di post sebelomnya kalo judul kegiatan ini Study, Seminar, & Practical ya, jadi Study itu jelas belajar di kelas. Banyak yg kita pelajari di kelas, mulai dari perbandingan hukum Indonesia - Jerman, German Criminal Law (kelas ini seru banget... dosennya cewe udh professor, lucunya kalo di Indo kita masih sibuk berkutat dengan pidana manusia, mereka sudah mulai bicarain robot, bahkan asal muasal tindakan pidana itu sendiri -terpaksa apa emang niat? & konsep free will), German Constitutional Law, dan beberapa kelas lain yang gue udah agak lupa. Di salah satu kelas bahkan kita disuruh mini mooting! Jadi sore sebelom pulang kuliah, kita dikasi kasus gitu, besoknya harus dibagi dua kelompok satu jadi Applicant satu jadi Defendant, kasusnya kalo gak salah tentang monopoli hak siar UEFA Euro 2012 apa World Cup ya, akika agak lupa udah lama soalnya wkwk. Selain itu, Leibniz Universitat Hannover itu sendiri cantik banget, bangunannya kastil tua, bagus banget buat... Foto-foto! Wkwkwk.

Pasca "Mini Mooting", ini mah kocaknya, kita semua vs. Shandy & Hani. Hahaha :D
Leibniz Universitas Hannover... Cantik!


2. Presentasi tentang Sharia Banking Law & Indonesian Copyright Law (Seminar)
Selain mendapat banyak ilmu di kelas yang disediakan univ ini, kita juga memberi ilmu balik tentang hukum yang berlaku di Indonesia. Ada dua tema menarik yang kita pilih. Pertama Sharia Banking Law, jelas... Karena negara-negara Eropa asing dengan sistem perbankan Syariah lah ya... Eke yg presentasiin secara ini juga tema skripsi gw. Terus tentang Copyright Law di Indonesia, secara negara kita punya banyak budaya mulai dari tarian, lagu daerah, dan kekaayaan budaya lainnya yang patut dijaga.

3. Kunjungan ke Hannover District Court, GIZ, serta Parliament Office
Saat kunjungan ke Hannover District Court (Pengadilan Negeri Hannover), jujur aja gue agak ngantuk secara dingin, dan sidangnya berlangsung dalam Bahasa Jerman, gue kan nggak ngerti artinya T.T tapi tetep merhatiin secara seksama gimana jalannya sidang, dan dosen pendamping dari Leibniz juga ngasih ringkasan kasus pidana yang sedang disidangkan. Ceritanya ada nenek-nenek mau pindah rumah, ya pake jasa mover service ya, dan perhiasannya ada yg hilang pas pindah-pindahan itu. Kalo gak salah sidangnya si hakim lagi ngorek keterangan saksi termasuk tetangga-tetangga si nenek. Kita juga ngunjungin Niedersachsischer Landtag alias  Parliament of Lower Saxony.


4. Cultural Night
Kegiatan mini exchange kayak gini pastinya kurang lengkap dong ya tanpa Cultural Night. Acara ini diadain di International Office-nya Leibniz. Kita memakai pakaian tradisional, dan menyediakan video tentang Indonesia serta menyajikan makanan khas Indonesia (yang gampang dibawa tentunya seperti rendang kering, gudeg kaleng, berbagai keripik khas Indonesia). Gue excited banget karena gue sama Fertian dapet tugas belanja keperluan kayak soda, paper cup, & numpang masak nasi di apartemen Indra, temen SMA si Tian yang kuliah di Hannover. Hahaha, grocery shopping kan emang hobi terpendam gue :')



5. Kunjungan ke International Tribunal for the Law of the Sea
Buat anak hukum, khususnya yg majornya international law, pasti belajar matkul law of the sea dan pasti akrab dengan ITLOS (International Tribunal for the Law of the Sea). ITLOS ini sendiri letaknya di Hamburg, jadi kita harus keluar kota, seru kan? Hehehe. Kita naik kereta dari Hannover ke Hamburg.

Hamburg Hbf (Hauptbahnhof) alias Hamburg Central Station, bagus bgt mirip airport! Wkwk


Jualan bunga-bungaan di Hamburg Hauptbahnhof, cantik!
Tak lupa beli tumbler Starbucks tentunya... :P
6. Jalan-jalan di sekitar Hannover
Sebelum cabut ke Amsterdam, kita jalan-jalan dulu dong di sekitar Hannover, dipandu temen-temen PPI yang super baik-baik banget hehehe :D


Rathaus Hannover, dari tingkat paling atas dan melalui lift kemudian tangga yang curam kita bisa menikmati pemandangan kota Hannover dari atas...
Kota Hannover dari atas Rathaus Hannover
Anginnya cukup kencang jadi...
Pasar Malam Hannover: Jajan Poffertjes Nutella :")
Jauh-jauh ke Yurop foto kok kayak di Korea :')

Di suatu sore pas ciwi-ciwi lagi jalan-jalan (plus Shandy ya...), kita nemu sebuah kafe lucu nan menggemaskan di suatu sudut kota Hannover. Kita duduk di luar dan disediain selimut, karena suasana masih dingin-dingin gimana gitu, kamar mandinya aja lucu! Gimana makanan dan minumannya? Enaaaak. Kita pesen waffle + apple jam, enaak! Gue pesen hot white chocolate with baileys, enaaak, yang lain juga pesen berbagai minuman anget dikasi baileys, enaaak! Eci misalnya, hot chai latte with baileys kalo gak salah, enaaaak! Tapi paling enaknya lagi karena tempatnya pewe! Nama kafenya Teestuebchen.